Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, November 22, 2009

Tentang dia....tanpa rasa murahnya cinta.

Align Center
Pada sudut terasing ini terperuk sekeping hati
menjeruk rasa pada sebuah kisah
memendam pilu pada jiwa yang mati
meniti hari dengan langkah yang tidak sempurna

Pada lirik matanya terisi sendu yang bukan sedikit
pada lakaran senyumnya ada calar di hati
ada rahsia yang meruntun sanubari
ada kisah lama yang sakit
ada cerita satu episod kehidupan

Dia hari ini tersungkur dan terus tersungkur
bukan simpati yang di raih
bukan simpati yang di dambanya
hanya melepas remuk di dada
sekadar merembeskan nanah
kelukaan yang tercarik

Tahu diri bukan sekuat mana
tahu diri tidak seampuh mana
tahu diri ibarat hilang daya
tahu diri bagai layang-layang terputus tali
hilang arah dan punca

Jangan lagi di gadai harga yang ada
biar terus tidak di cinta
biar terus tidak di miliki
biar diri tidak di punyai
asal nadi terdenyut
dengan bangga tanpa rasa
murahnya harga cinta.

Wednesday, November 4, 2009

...

Aku renung setiap bilah kisah

Dari episod cinta naïf

Aku nilai dari pandangan kasar

Aku hitung juga dari bahasa hati

Aku pertimbangkan setiap patah

Kata azimat mereka yang prihatin

Aku akui....

Naifnya aku dalam mengenal erti

Kata sebuah cinta


Adakala nafsu menunjangkan rasa

Ada ketika gelora hati meruntun di jiwa

Ada saatnya hati berdetik kata walang

Hingga tergadai lagi harga dan nilai

Cinta yang naif


Aku terhumban dan terasing

Di sudut kendiri

Terperosok, berwalang

Rawan hati pada sebuah ceritera

Cerita cinta yang naif


Silap menilai

Salah menghitung

Rapuh pertimbangan

Terlupa dengan alasan

Terbias kata kesal

Tunjangkan kesalahan pada diri sendiri


Aku kumpul kekuatan untuk terus berjalan

Biar dalam rawan hati

Biar penuh kesal di jiwa

Biar aku terus berjalan

Biar cinta yang naif itu terus terkubur

Sekalipun tidak bernisan


Aku larikkan segaris doa dan harapan

Untuk hati terus mengenal erti kata yang sebenar

Aku titipkan seraut doa dan harapan

Untuk terus berjalan

Ini noktah aku yang terakhir.

Tuesday, June 16, 2009

Ya Allah, Aku mohon setitis KETENANGAN dari selautan Rahmat dan Rahman MU.

Lelah dan penat berganti.
Hati dan jiwa masih keresahan.
Masih terasa gelora pada kemuncak semalam.
Masih terbayang bait kata yang di larik.
Masih jelas senyum kelat
tatkala menelan semua pengakuan jujur itu.
Semuanya bagai layar pada wayang.
Bersama seribu lagi episod dari siri kehidupan ini.
Bersama sejuta rasa yang di biaskan minda, jiwa dan hati.

Adu saya pada teman.
Aku dah letih,
Aku dan penat.
Aku rasa aku dah give up.
Aku rasa aku dah tak mampu nak fikir.
dan aku fikir aku terus akan gagal.

Pesan si teman pada saya.
Bersabarlah.
Katanya...
Sabar itu penawar
Sabar itu ubat
Sabar itu rahmat.

Buat dia.
Saya mengerti
Saya memahami
Saya tak kesah
Saya tahu
Saya dah agak
Saya dah biasa
Saya dah kalih
dengan situasi ini.
Hati saya dah kebal.

Tapi sekebal dan sekeras hati saya
saya tak bisa untuk berbohong
Saya sedih
Saya menangis
Saya akan terus merindu
kerana saya masih sayang
tapi saya akur
bila takdir sekali lagi
tidak berpihak pada saya
Saya pasrah bila
ketentuan itu tidak bersama saya
Saya redha
bila ujian ini makin menghimpit
bila terlalu banyak persoalan
yang perlu saya jawab
sedang skrip jawapannya
hilang bersama pencarian saya.

Saya rimas
Saya resah
Saya sakit hati
Saya benci
bila saya terpaksa menelan
sebulatnya
setiap pertanyaan sinis
setiap gurauan tajam
setiap kata yang menerjah
ke saraf telinga.

Ya Allah
Aku mohon setitis
KETENANGAN
dari selautan Rahmat
dan Rahman MU.

Amin.

Wednesday, April 8, 2009

Saya dan pelangi yang hilang.

Semalam saya terpandangkan pelangi
Antara rintik hujan
juga simbah sinar mentari petang
Jalurnya indah....
Dari merah jingga
membawa ke biru dan ungu
Tersusun dengan garapan terindah
Ciptaan DIA

Terpegun dan terpesona dengan keindahannya
Menenggelamkan saya bersama khayalan
Pada satu sudut tangga di ruangan belakang
saya menilai dan meneliti
setiap jalur-jalur keindahan pelangi
dari satu jalur saya rentas jalur berikutnya

Tanpa kerdipan, mata terus menatap pelangi
dengan harapan keindahannya
kekal terus bersama saya
namun saya silap.....
jalur nan indah itu
mula menipis warnanya
kian menghilang dari pandangan
Cantik yang tadi makin kabur
Akhirnya...
awan putih mendepani mata

Hilang sudah pelangi saya
Hilang kini keindahan rasanya
Hilang bersama khayalan yang belum sudah
Bersama kenangan
Suka atau duka ianya tetap yang terindah
Ada rindu yang di tinggalkan

Pelangi....
Sekalipun seketika hadirnya
Namun kehadirannya pernah membiaskan
warna-warna indah dalam hidup saya

Hakikatnya....
Rindu saya untuk terus memiliki
jalur dan susun pelangi yang indah.


Saya kehilangan pelangi saya
saya rindukan pelangi saya
ada ganti untuk pelangi saya?

Monday, March 9, 2009

Di Dermaga Sepi


Lewat senja di dermaga sepi
Menanti mentari melabuhkan sinar
Desir ombak melagukan khabar dari seberang
Dan itulah saat si camar terbang pulang
Damai dan nyaman dalam hati
Juga itulah masa terlerainya ikatan
Dalam peluk yang masih berbekas
Pada detik itu juga derap langkah
perlahan meninggalkan aku...

Di ketika tangan masih kemas di genggaman
Saat mata berbahasa rindu
Lidah kelu tanpa bicara
Kerdip mulus mata itu tidak ku tahu
bahasa yang terlarik....
kerana tanpa sedar
genggaman di lepaskan
meninggalkan aku bersama episod luka
bersama titis jernih
dan dengan tekad yang tiada hujungnya.

Biasan kata yang lahir tanpa sedar.
Semoga aku mampu untuk terus melupakannya.
Hakikat hari ini aku kerinduan.
Pemiliknya tidak lagi bersamaku.
My Crustacea.
Kaburlah dari ingatan dan hati ini.
Kerana ada tulah derita di tebing kekecewaan ini.

Friday, March 6, 2009

Kau pergi

Kau pergi tanpa pamit
Kau atur langkah tanpa berpaling lagi
Kau berlari dan terus menghilang
Kau bina istana di hati ku
namun kau tinggalkan ia usang

Harapan kau gantung tinggi di awanan
Semangat cinta semalam kau leburkan di tebing kecewa.
Hingga aku terlupa itulah anganan kosong hati yang kecewa....

Saat langkah kau atur, pejam mata ini bersama titis yang jernih....

Saat aku hanyut di laman WMZ, aku ukirkan kata ini tanpa sedar....
sesekali terasa indahnya rasa hati....

Tuesday, February 24, 2009

Bicara aku pada semilir senja

Bicara aku pada semilir senja
bersama harapan, impian dan doa
agar reda luka silam
agar ada titian menuju bahagia
sekalipun bukan emas salutannya
bukan perak asasnya
cukup sekadar kukuhnya untuk aku
bertapak menuju bahagia

Saturday, December 27, 2008

Sepi sendiri

Dalam kesepian ini aku sendiri

Menongkah kembali lembaran kisah lalu

Keperitan silam

Suka dan duka perjalanan lepas

Dalam kebingungan ini aku sendiri

Membongkar kembali rahsia diri

Menyesali apa yang tersurat pada lembaran cerita dulu

Cuba membebat kelukaan yang pernah terbiar

Aku sendiri kini

Tiada lagi janji yang mengiringi

Tiada lagi lagu cinta irama indah

Yang teralun lewat detik lalu

Senyumnya aku hari ini

Setelah sekian lama

Menjadi hamba pada sebuah episode cinta

Luka dan memilukan


Aku…..

Idany04

081204


Dalam resah aku kembali meniti memori lalu....

Friday, December 26, 2008

Cinta Seorang Teman


Teman,

Dalam kekalutan fikiran

Kau hadir persis bayu

Tenang dan mendamaikan

Teman,

Dalam keresahan jiwa

Kau datang sebagai pembebat

Membebat luka-luka dijiwa

Membebat segala kasakitan silam

Teman,

Aku kagum dengan setiap patah

yang kau tuturkan…

kata yang kau untaikan…

ungkapan yang kau madahkan….

Jua irama yang pernah kau lagukan

Teman,

Aku rindu bila suara mu

Tidak lagi ku dengari

Bila untaian kata mu

Tidak sampai ke penglihatan ku

Bila madah dan irama lagu mu

Tidak lagi menemani malam sepi ku

Teman,

Aku tenang, aku damai

Bila sesekali aku teringatkan

Cinta mu….

Bila ada saatnya aku jadi rindu pada mu

Kala itu aku tahu betapa kuatnya

Cinta seorang teman.


Idany

261204

Dedicated to My Crustacea


 

Design by Amanda @ Blogger Buster